Makalah Zaman Zedo Pada Sejarah Jepang | umpulan Makalah

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
       Zaman Zedo (edo jidai) (1603 -1867) adalah salah satu pembagian periode dalam sejarah Jepang yang dimulai sejak shogun pertama Tokugawa Ieyasu mendirikan Keshogunan Tokugawa di zedo yang berakhir dengan pemulihan kekuasaan kaisar (taisei hōkan) dari tangan shogun terakhir Tokugawa Yoshinobu sekaligus mengakhiri kekuasan Keshogunan Tokugawa yang berlangsung selama 264 tahun. Zaman Edo juga disebut sebagai awal zaman modern di Jepang. Selanjut nya akan dijelaskan mulai dari Shogun Tokugawa hingga timbulnya gerakan anti shogunat.
        Dari sejak kemenangannya pad atahun 1600 itu baisanya dimuai zaman yedo atau zaman tokugawa. Yedo berkembang jadi benteng militer terbesar dan kota terbesar di JEpang. Perlawanan terhadap Ieyasu baru berakhir sama sekali tahun 1615 setelah puri Osaka  setelah puri Osaka sebagai pertahanan terakhir dari musuh musuhnya dihancurkan. Pemilihan Yedo sebagai pusat Bakufu itu juga atas pertimbangan meniru kepada Minamoto Yuritomo yiatu untuk menghindari bahaya  intrisme dan pengaruh yang melemahkan dari kehidupan di Kyoto.
B.     Rumusan Masalah
1.    Apa itu Tokugawa Ieyasu ( 1543-1616) ?
2.    Bagaimana Politik Shogun-shogun Tokugawa ?
3.    Bagaimana Masyarakat dan Kebudayaanya ?
4.    Bagaimana Perlawanan kepada kekuasaan Tokugawa?
C.     Tujuan Makalah
1.    Untuk mengetahuai apa itu Tokugawa Ieyasu ( 1543-1616).
2.    Untuk mengetahuai Politik Shogun-shogun Tokugawa.
3.    Untuk mengetahuai Masyarakat dan Kebudayaanya.
4.    Untuk mengetahuai Perlawanan kepada kekuasaan Tokugawa.
 
 
 

BAB II
PEMBAHASAN
A.     TOKUGAWA LEYASU (1543-1616)
       Keluarga Tokugawa adalah masih cabang dari Minamoto. Ieyasu mula mula seorang bawahan dari daimnyo keluarga Inagawa. Ketika majikannya itu dikalahkan oleh Oda Nobunaga, ia menyebrang kepihak Oda dan anaknya dikawainkan dengan putrid Nobunanga. Sepeninggal Nobunanga ia adalah orang yang berkuasa dijepang sesudah Toyotomi Hieoshi dan atas saran Hideyoshi ia mendirikan markas besarnya di Yedo. Dan atas saran Hideuoshi ia mendirikan markas besarnya di Yedo. Sejak tahun 1590 Yedo jadi temapt kediamannya, tetapi baru sesudah pertempuran di sekigahara ( 1600 ) tempat  ini dijadikan olehnya ibukota pertempuran disekigahara ( 1600 ) tempat ini dijadikan olehnya ibukota dari Bakufu. Dalam tahun 1603 ia disyahkan oleh tenno dalam jabatan shogun. Karena masih keturunan dari Minamoto, maka ia dapat memakai pangkat itu, sebab sudah dijadikan tradisi, bahwa yang jadi shogun harus keturunan dari minamoto seperti haknya dengan ashikaga.
Setelah pertempuran di Sekigawa itu ia memaksa para daimnya menandatangani sumpah setia, bahwa mereka akan aat kepada peritnah perintah dari Yedo, dan tidak akan melindungi musuh musuh dari Bakufu. Dari sejak kemenangannya pad atahun 1600 itu baisanya dimuai zaman yedo atau zaman tokugawa. Yedo berkembang jadi benteng militer terbesar dan kota terbesar di JEpang. Perlawanan terhadap Ieyasu baru berakhir sama sekali tahun 1615 setelah puri Osaka  setelah puri Osaka sebagai pertahanan terakhir dari musuh musuhnya dihancurkan. Pemilihan Yedo sebagai pusat Bakufu itu juga atas pertimbangan meniru kepada Minamoto Yuritomo yiatu untuk menghindari bahaya  intrisme dan pengaruh yang melemahkan dari kehidupan di Kyoto.
B.     POLITIK SHOGUN-SHOGUN TOKUGAWA
Dalam tahun 1605 ieyasu menyerahkan pangkat shogun kepada anaknya Hidetada, tetapi  ia masih terus memimpin pertahanan sebagai shogun mengundurkan diri hingga wafat pada tahun 1616 konsolidasi kekausaan Tokugawa yang telah dimulai oleh Ieyasu dilanjutkan oleh hitetada ( 1616 – 1622 ) dan kemduian oleh Iemitsu ( 1622-1651 )  Sejak itu dialami oleh Jepang masa damai yang panjang seperti belum pernah terjadi dalam kira – kira 500 tahun sejak perang saudara Minamoto-Taira. Selama kira – kira 2 ½ abad kekuasaan dijepang ada tangan keluarga Tokugawa. Dalam Politik Tokugawa yang menciptakan masa damai yang panjang itu dan kesetabilan dalam pemerintahan itu dapat diliat 3 garis besar :
1.    Pengawasan terhadap para daimnyo.
2.    Hunungan dengan Tenno dan
3.    Sikap terhadap dunia luar ( politik isolasi)
a.   Politik terhadap para daimyo
       Tidak lama setalah pertempuran di Sekihara ( 1600 ) para daimnyo  diambil sumpah setianya secara tertulis. Mereka itu dibagi dalam dua golongan: Daimyo fudai dan daimnyo tozama. Gelombang yang pertama itu terdiri dari  pasal – pasal yang jadi sekutu Ieyasu sebelum pertempuran di Sikegahara, didalamnya termasuk golongan keluarga Tokugawa sendiri, speerti daimnyo dari owaru, Kii dan Nito. Dari ke – 3 cabang kelaurha itu dipilih pengganti shogun, apabila dari shogun yang memerintah itu sudah tidak ada lagi keturunan laki – laki. Para daimnyo fudai itu menduduki propinsi – propinsi di JEpang Tengah dan Timur di daerah daerah yang dialali perhubungan lalu lintas yang penting dengan  kota – kota yang penting dan tempat – tempat strategis. Tiga cabang keluarha Tokugawa itu tadi emngawasi tiga tempat yang merupakan pintu masuk kepusat Bakufu : Daerah KII disebelah selatan Osaka sekitar Wakayama.
       Mereka merupakan pengawal keamanan kejurusan Kyoto dan Yedo. Para daimnyo tezama ditempatkan didaerah daerah yang lebih ajuh dari pusat bakufu dan jika seorang daimnyo diragukan kesetiannya, maka disekeliling daerahnya ditempatkan daimnyo daimnyo daimnyo yang lebih setia. Para daimnyo itu baik daimnyo fundal maupun daimnyo diharuskan bergillir diam di Yedo dalam waktu sebagian dari setahun. Oleh shogun tokugawa ketiga, Iemitoro (1622–1651) wktu ditetapkan setengah tahun .
       Oleh shogun Tokugawa ke-4 Ietsu (1651-1688), ditetapkan jika mereka itu kembali kedaerah harus meninggalkan anak isteri mereka Yedo sebagai saudara. Ditetapkan pula bahwa para daimnyo dilarang keras mengahadapi diistana tenno di Kyoto. Kekayaan para daimnyo diabtasi jika seorang daimnyo terlalu kaya, sehingga bias berbahaya, maka ia diperitahkan membiayai perkerjaan pekerjaan umum. Juga  pembuatan dan pemeliharaan puri puri para daimnyo diabtasi dengn keras, didaerah  daerah ditempatkan pegawai  pegawai Bakufu.  Yang  melakukan pekerjaan sebagai mata mata ( sensor / metsuke ) dan dalam waktu tertentu mereka itu mengiringkan laporan laporan mengenai tindak tanduk dan sepak terjang para daimnyo. Juga kota kota ditaruh dibawah pengawasan yang keras. Orang orang berpergian diperiksa dengan teliti dan ditempatkan tertentu sepanjang jalan ada pos pos pemeriksaan. Jepang dijadikan Negara polisi. Kekuatan militer dari biara biara, yang telah di hancurkan oleh oda Nobunag, juga dijaga tidak timbul lagi.  Dalam pemerintahannya shogun dibantu oleh suatu badan penasehat dari 4-5 orang ( toshiyori ) sewaktu–waktu  terutama antara tahun 1638 dan 1648 ada semacam perdana Meneteri (tairo) dimasa perang toshiyori itu merupakan staf umum angaktan perang. Dibawah toshiyori ada dewan pengawas ( wak – deshiyori ) yang terutama  mengawasi para pasal didaerah yang langsung ada dibawah kekuasaan shogun, tetapi berpangkat lebih rendah dari para daimnyo, yaitu para hatamoto atau kesatria pemimpin pasuka
       Badan ini juga mengawasi para samurai yang  jadi pengiring dalam rumah tangga shogun. Mayoritas dari para samurai ini yang tidak diberi daerah apanase sampai kepada yang berpangkat paling rendah disebut gekenin. Disamping badan badan itu ada para pejabat polisi rahasia yang disebut metsuke/sensor. Yang mengawasi gerak polisi dan sepak terjang apra daimnyo didaerah  daerah.
       Kepada badan itu diperbantukan sejumlah besar pegawi yang sebut bugyo untuk administrasi dan kehakiman. Sungguhpun para daimnyo itu didaerah mereka masing masing mempunyai otonomi yang luas, mereka itu ada dibawah pengawasan keras dari pusat Bakufu. Olej Tokugawa, Confusianisme dipakai sebagai alat untuk memlihara kesetabilan dalam pemerintahan dan masyarakat. Sebagai permualaan dari politik ini dapat dianggap tindakan Ieyasujana confusianisme, hayashi Razan ( 1563-1657 ) sarjana  ini adalah pengikut confucianisme ortodok Sung dari Chu His( Shu-Shi ).

b. Hubungan dengan Tenno
       Oleh Tokugawa tenno direnggangkan lebih jauh dari rakyat dan dijauhkan pengaruh yang efektif dalam pemerintahan. Kepada tenno dan bangsawan bangsawan kuge diberikan penghsilan yang sesuai dengan kedudukan mereka, tetapi tidak diberikan tanah. Seperti dahuku permaisuri tenno harus wanita Fijuwara. Tenno tidak boleh menerima kunjungan tanpa melaui saluran yang ditetapkan Bakufu. Pada hari pergantian dari Kyoti dikirim utusan tenno ke Yeddo untuk menyampaikan ucapan selamat tahun baru kepada shogun dan menyakan kesehatannya. Pengangkatan pejabat pejabat di IStana harus dengan persetujuan Bakufu.
       Lambang  dari ideology persatuan dan lebih ditekankan penghormatan kepada tenno sebagai keturuanan Dewa Matahari, tetapi ia tidak boleh turut dalam pemerintahan dan hanya mepunyai fungsi sacral. Tenno tidak boleh diganggu gugat, tetapi tidak mempunyai kekuasaan apa apa jika tenno sudah dewasa, harus turun takhta. Ia diasingkan dari rakyat sama sekali tidak ada hubungand engan rakyat. Hanya sekali setahun pada waktu tahun baru ketika ia diusung dalam tadu, kakinya boleh kelihatan.

c. Penutupan Jepang
       Sikap tekugawa Ieyasu terhadap agama Kristen mula mula penuh toleransi. Ia terutama ingin pula memetik keuntungan dari perdagangan dengan orang - orang asing. Pada akhir abad ke – 16 dan permulaan abda ke-17 makin banyak orang Jepang yang berlayar ke Cina, Korea, India Belakang, Filipina dan Indonesia.
       Orang orang barat yang dating ke Jepang juga makinbanyak pada tahun 1600 terdampar dipulau Kyushu kapal dagang Belanda dan dalam tahun 1605 kongsi dagang BElanda VOC mendapat ijin dari shogun untuk mengadakan perdagangan deng Jepang. Dalam  tahun 1609 mereka mendirikan pos perdagangan di pulau Hirado dekat Ngasaki. Dalam tahun 1602, saudara saudara Spanyol mengunjunhi Jepang sebelah Timur. Paderi paderi dari spanyol disambut dengan ramah tamah oleh Ieysu, yang mengharapkan supaya saudara saudara Spanyol mengadakan perdangan langsung dengan Yedo. Ieyasu juga berusaha membuka perhubungan perdagangan langsung dengan Yedo, dalam tahun 1610 dibuat persetujuan dengan gubernur Spanyol di Manila. Tetapi hanya sedikit saudagar asing yang dating ke Yedo.
       Ieyasu juga berusaha membuka perhubungan perdagangan langsung dengan Spanyol Baru ( Mexico ) . setelah bangsa Belanda, Inggris danlam tahun 1613 dibolehkan pula berdagang dengan jepang. Teptai sementara itu timbul pula pada Ieyasu kekawatiran kepada acnaman bahaya politik, dari agama Kristen. Kedatangan orang orang Belanda dan Inggris yang tidak menaruh minat untuk meniarkan agama membuat ia sadar, bahwa perdagangan dengan Eropa dapat dijalankan terus tanpa perantaraan orang  orang missioneris. Dimulai tahun 1606 dikeluarkan serentetan pengumuman anti Kristen dan dalam tahun 1612 dengan tegas diadakan penindasan agama Kristen. Tidnakan itu diperkeras oleh Hidetada dan iemitsu, dalam tahun 1636 oleh Iemitsu dikeluarkan dekrit terkenal dengan Dekrit Tokugawa yang melarang Jepang pergi  keluar negeri dan orang Jepang yang ada diluar negeri harus kemabli. Pembuatan kapal kapal besar untuk pelayaran ditengah laut juga dilarang, kapal kapal besar utnuk pelayaran ditengah laut juga dilarang, kapal kapal yang besar harus dihancurkan. Pelanggar dekrit ini dijatuhi Hukuman mati.
       Agama Kristen juga dilarang dengan keras. Penindasan agama Kristen mengakibatkan perlawanan dari penganut penganutnya dan dalam tahun 1673 – 1638 terjadi pemberontakan orang orang Kristen di Shimabara Dekat Nagasaki. Akhirnya Bakufu mengambil tindakan lebih radikal menutup seluruh engeri terhadap pengaruh pengaruh dari barat sejak itu dialkukan politik Sakoku atau negeri tertutup.
       Orang – orang jepang yang terlabat keabli dari luar negeri dihukum mati, semua orang – orang Portugis dan Spanyol diusir dan Perdaganagn dengan mereka dilarang. Kemudian perdagangan dengan orang Inggris juga dilarang. Akhirnya bangsa bangsa barat itu hanya orang orang belanda sajayang diberi ijin utnuk berdagang terus, tetapi perhubungan dengan mereka sangat dibatasi dan dengan sarat sarat uang merendahkan Nagasaki dan terhadao mereka diadakan pengawasan sangat keras dengan Cina masih terus diadakan perhubungan pedagangan, tetapi hanya boleh dilakukan oleh orang orang cina sendiri yang telah  mendapat izin dan juga pengawasan keras. Supaya jangan ada kitab agama Kristen, wajibkan mendaftarkan diri sebagai pengaunut dari slaah satu dari mashab mashab agama Budha yang ada di Jepang. Kota Nagasaki selallu dicuri gai sebagai pusat agama Kristen, pendudukannya tiap tahun diharuskan menginjak – nginjak orang suci agama Kristen, salib dan sebagainya tanda bukti, bahwa mereka telah mengingkari agama yang terlarang itu. Kitab kitab terjemahan dari basha asing, terutama dari bahasa Cina  ditaruh dibawah sensur yang keras untuk menjaga supaya dapat dibersihkan dari kemungkinan pemasukan pengaruh agama Kristen. Secara diam – diam dan rahasia masih ada juga penganut agama Kristen, tetapi tidak berarti sama sekali.
C.     MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
       Dalam zaman Yedo masyarakat terdiri atas golongan kuge, buke, samurai, kaum tanai dan orang orang kota. Pengaruh sangat kuat dari Confucianisme tercermin pada peraturan keras untuk golongan samurai, petani dan orang – orang kota mengenai pekerjaan, pakaian dan makanan, kaum tani dan orang – orang kota disebut Hoimin  ( rakyat biasa ) ada orang yang tidak termasuk kedalam slaah satu golongan, mereka itu disebut ete dan statusnya dalam masyarakat sama dengan golongan paria. Golongan kuge masih dihormati kebangsawanannya, tetapi tidak berkuasa sama sekali dibidang social dan politik. Kekuasaan itu ada pada buku, yaitu shogun dan para daimnyo. Samurai dalaah prajurit yang jadi pengikut daimnyo dan shogun.
       Selain pekerjaan militer mereka juga melakukan pekerjaan administrasi dalam pemerintahan dipusat Bakufu dan dari daimyo. Diantara orang-orang samurai itu yang menduduki jabatan-jabatan penting dalam administrasi pemerintahan, ada yang berkebudayaan dan berpendidikan tinggi. Orang-orang kota terdiri atas para tukang dan saudagar.
       Oleh Tokugawa dipakai teori Confucianisme untuk mengadakan empat golongan dalam hierarki masyarakat : samurai, petani, tukang, dan pedagang. Dalam teorinya para petani mempunyai kedudukan dalam masyarakat diatas para tukang dan saudagar. Dalam prakteknya mereka itu adalah rakyat yang paling tertindas. Mereka menjadi penjamin hidup golongan yang diatasnya : kuge, buke dan samurai. Orang-orang dari leisured class ini ( golongan yang hidupnya paling enak, tanpa kerja keras terjamin ) jumlahnya tidak sedikit. Diwaktu itu jumlah daimyo ada kira-kira 270 dan samurai kira-kira 2 juta. Dari Confucianisme diharapkan oleh Tokugawa faktor stabilisasi dalam masyarakat dan pemerintahan. Ajaran Confucianisme menekankan hubungan sebaik baiknya antara pemerintah dengan rakyat. Karena itu sangat tepat untuk dijadikan filsafat negara dan dipakai membina pengertian yang dalam mengenai ketaatan kepada pemerintah. Dari sebab itu oleh Tokugawa dimajukan dengan kesungguhan pengajaran filsafat Confucianisme, yang resmi tafsiran tafsiran dari Chu-His, tetapi Confucianisme dari zaman Ming menurut tafsiran Wang Yang Ming ( sebutan dari Jepang : Ol-yu-mei ) mempunyai pengaruh yang besar. Pemakaian Confucianisme dalam politik Tokugawa itu sudah dimulai oleh Ieyasu.
       Keadaan politik yang stabil dan zaman damai yang panjang diciptakan oleh Tokugawa. Di zaman damai ini kedudukan golongan saudagar jadi makin baik. Beberapa kota bertambah maju dan jadi makin besar. Di zaman Tokugawa itu kota kota mengalami kemajuan besar dalam perkembangannya. Biasanya kota kota itu timbulnya berpusat kepada tempat tempat kedudukan para daimyo. Terutama Yedo berkembang jadi salah satu kota terbesar didunia. Kota itu jadi pusat Bakufu dan karena keharusan para daimyo untuk tinggal dalam waktu tertentu dikota itu, golongan samurai yang jadi pengiring para daimyo itu pelayan pelayan dan pengiring pengiring juga ikut.
       Tukang dan saudagar saudagar bertambah banyak untuk melayani keperluan hidup para pembesar dan pengiring pengiringnya dikota itu. Oleh Ieyasu telah juga dijalankan politik untuk menjadikan Yedo sebagai pusat ekonomi dan kebudayaan dari Jepang. Tukang tukang pemilik pemilik took dan saudagar saudagar dari Kyoto, Osaka dll. Tertarik untuk pindah ke metropolis baru itu. Orang orang kota kehidupannya bertambah maju, para saudagar naik keatas dan merupakan golongan pertengahan yang makmur. Sebaliknya golongan miter banyak yang jatuh miskin, mereka tenggelam dalam hutang kepada saudagar saudagar kaya. Golongan bangsawan dan samurai ada pula yang kawin dengan anak anak saudagar kaya. Lambat laun melalui perkawinan dan adopsi terjadi percampuran antara golongan golongan. Juga masa damai yang panjang itu menyebabkan kemunduran golongan militer, karena dimasa tidak ada perang itu mereka tidak banyak kerja, raison D’ etre ( dasar untuk adanya ) bagi mereka jadi hilang.
       Pengaruh kehidupan orang orang kota itu juga kelihatan pada perkembangan kebudayaan. Sifat keningkratan dari kebudayaan jadi kurang corak kebudayaan Yedo mencerminkan kehidupan orang orang kota. Ceritera roman mengalami kemajuan. Dalam puisi jadi popular bentuk sajak, yang bernama Haiku. Drama No yang lembut lambat laun terdesak oleh sandiwara rakyat Kabuki. Sandiwara ini berasal dari tarian seorang pendeta wanita bernama 0-Kuni. Dalam tahun 1703 ia datang ke Kyoto mengumpulkan derma untuk pembangunan kembali kuilnya yang habis terbakar. Ia menarikan tari tarian sederhana, mengambil adegan adegan dari kehidupan diistana. Ia mendapat sukses besar dan kemudian memakai pembantu pembantu sehingga dengan demikian terbentuk serombongan kecil pemain sandiwara dan penari. Pakaian yang dipakai O-Kuni dalam pertunjukan disebut Kabuki. Sandiwara tari yang dimulai sederhana dan kecil itu menjadi sandiwara klasik bangsa Jepang. Dalam tahun 1646 oleh pemerintah diadakan larangan terhadap kaum wanita jadi pemain sandiwara. Walaupun larangan itu telah dicabut dalam tahun 1868, dalam Kabuki atau No hingga sekarang tidak dikenal pemain wanita. Sandiwara Kabuki lebih realistis dan lebih murni, mungkin karena itu digemari dan lebih menarik perhatian rakyat.
       Dalam seni lukis dikembangkan oleh pelukis pelukis rakyat aliran U-kiya-e, yang melukiskan adegan adegan dari kehidupan sehari hari rakyat kota. Bidang bidang lain dari kesenian Jepang mengalami kemajuan, seperti kerajinan barang barang lak, porselin, ukiran dan sebagainya. Tetapi dalam seni bangunan tidak tampak semangat baru seni bangunan hanya meniru gaya dari abad ke-16. Bangunan sangat masyur dari zaman Zedo adalah mausoleum untuk makam makam Tokugawa di Nikko.
       Kebudayaan zaman Zedo dengan kemajuan yang luar biasa disebut Cenroku ( 1688-1704 ), disebut menurut nama tarikh yang hampir bersamaan dengan masa pemerintahan Shogun Tokugawa ke-5, Shogun Tsunayeshi (1680-1709). Didalamnya terlihat pengaruh sangat kuat dari golongan orang-orang kota. Keseniannya mengungkapkan semangat orang-orang kota. Teater Kabuki mendapat kunjungan ramai. Pusat dari kesenian adalah Yoshiwara. Para geisha memegang peranan penting dalam kesenian member hiburan. Mereka itu adalah gadis-gadis yang sejak kecilnya dididik menjadi seniwati. Mereka adalah juru penghibur yang berpendidikan baik. Mereka dapat dipanggil untuk melengahkan pikiran dengan hiburan-hiburan berupa percakapan yang riang, nyanyian-nyanyian, tarian-tarian dan musik. Tampilnya wanita Jepang sebagai geisha dalam kehidupan social merupakan suatu keistimewaan. Dizaman feodalisme kedudukan wanita yang dizaman sebelumnya adalah tinggi, telah makin menurun. Dimasa perang-perang yang lama timbul pandangan rendah terhadap wanita. Disemua lapisan masyarakat, hanya kedudukan kedudukan yang dibawah perintah pedagang oleh kaum wanita. Genroku juga terkenal dengan seniman seniman besarnya : Matsua Basho ( 1644-1694 ), penyair haiku Ibara Saikoku ( 1642-1693 ), penulis roman Chikamatsu Nonzaemon ( 1653-1723 ), penulis ceritera sandiwara ( diberi julukan Shakespeare ) Jepang karena drama dramanya ), Hishikawa Moronobu ( 1638-1714 ), pelukis u-kiye-e dll. Kemajuan kedua dari kebudayaan Yedo tercapai dizaman Bunka ( 1804-1818 ) dan Bunsei (1818-1830 ) tetapi kekuatannya tidak seperti dizaman Genroku.
       Para shogun Tokugawa bertindak sebagai pelindung resmi agama Budha, meskipun sebelumnya Tokugawa Ieyasu membantu Oda Nobunaga menghancurkan kekuatan politik dan militer dari Budhisme. Agama Budha sudah berakar kuat dalam kehidupan rakyat Jepang. Sekali sekali ada didirikan area atau kuil Budha, tetapi disamping itu mashab mashab agama Budha diawasi dengan teliti. Ajaran Confucianisme mengenai dasar etika dan moral tinggi diresapkan kepada rakyat. Lambat laun Confucianisme jadi kekuatan kerokhanian terbesar. Pada Budhisme kelihatan tanda-tanda ada kemunduran lambat lambat dari dalam, tetapi Confucianisme makin bertambah besar kekuatan pengaruhnya. Di zaman Yedo ini mungkin Confucianisme jadi sumber terpenting dari Bushido. Sangat menarik perhatian, bahwa cita cita dan sifat sifat yang dipujikan kepada golongan yang sudah mundur, yaitu para samurai, makin dimuliakan dan Bushido diperluas dijadikan filsafat hidup seluruh bangsa Jepang.
       Walaupaun pada umumnya politik isolasi dijalankan dengan keras, ada jendela kecil terbuka. Pengaruh pengaruh dari barat ada juga merembas kedalam melalui kantor dagang kompeni Belanda di pulau Deshima. Dengan bahasa Belanda masuk barang sedikit pikiran pikiran dari barat. Mula mulanya bahasa Belanda itu hanya diketahui oleh juru bahasa resmi dari Bakufu. Kemudian ada beberapa orang terpelajar Jepang mempelajari bahasa itu dan oleh mereka diusahakan terjemahan kitab-kitab tentang ilmu perbintangan, ilmu pasti, ilmu urai tubuh ( anatomi ) dan ilmu botani. Kegiatan semacam itu terutama terjadi dimasa pemerintahan shogun Yoshimune ( 1716-1745 ), shogun Tokugawa ke-8. Besar jasa yang disumbangkan oleh beberapa orang tabib yang bekerja dikantor dagang Belanda di Deshima, antara lain Von Sieboldt. Salah satu hasil terbaik daripada perhatian Tokugawa kepada pengajaran Confucianisme ialah pembentukan golongan terpelajar dan ahli piker dalam golongan samurai. Mereka ini sebagai negarawan negarawan menyumbangkan jasa jasa kepada administrasi pemerintahan yang efisien dan sebagai guru guru mereka membina terus kehidupan intelektual Jepang. Semangat belajar mendapat pemeliharaan.
       Ahli ahli filsafat dan guru guru dalam etika mempunyai pengaruh besar. Tetapi ada akibat lain yang turut merobohkan kekuasaan Tokugawa. Kegiatan yang bersemangat dalam belajar juga mencurahkan perhatian kepada pelajaran sejarah. Maka kehidupan perhatian kepada tradisi tradisi lama dan kepada agama Shinto. Shintoisme murni mula-mula bangkit sebagai reaksi kepada Ryobu-Shinto. Sebagai akibat dari pada renaissance Shintoisme, itu bergerak aliran yang bertekad melawan ajaran confucianisme dan menentang kekuasaan shogunat Tokugawa.
D.     PERLAWANAN KEPADA KEKUASAAN TOKUGAWA
       Berbagai faktor dan keadaan menimbulkan perlawanan perlawanan terhadap kekuasaan dictatorial dari Tokugawa. Masa damai yang lama, sebagai hasil stabilisasi yang diciptakan oleh Tokugawa dibidang politik dan sosial menanamkan benih benih keruntuhannya. Dimasa damai yang lama itu makin terasa kurang diperlukan keharusan pemerintahan militer. Golongan militer  mengalami kemunduran. Sifat luhur dari keprajuritan masih tetap diagungkan, tetapi dimasa tidak ada perang itu, para samurai sebagai golongan militer kehilangan raison d’ etre ( dasar dari sebab adanya mereka ). Para daimyo dan samurai banyak yang jatuh miskin dan tenggelam dalam hutang kepada saudagar saudagar. Makin banyak dari orang samurai kehilangan majikan. Mereka jadi ksatria kesatria pengembara tanpa pekerjaan tertentu, yang disebut ronin. Tokoh ronin itu mencerminkan kemunduran golongan samurai.
       Dimasa pemerintahan shogun Tsunayoshi sudah tampak tanda tanda kemunduran. Pemborosan uang terjadi setelah tahun 1684 penasehatnya yang cakap, Heta Masatoshi dibunuh. Kemudian rakyat dipersukar dengan Maklumat Maklumat, yang melarang pembunuhan binatang binatang. Shogun itu sangat dipengaruhi oleh agama Budha. Ia juga mengeluarkan peraturan yang memberikan perlindungan istimewa kepada anjing. Dimasa Tsunayoshi itu dalam tahun 1702 terjadi peristiwa 47 ronin. Seorang daimyo tozama,bernama Asama Naganori pada tahun 1701 dijatuhi hukuman mati. Peristiwa itu dianggap oleh para samurai Asana kesalahan seorang petugas Bakufu, bernama Kira Yoshinaka, dan mereka bersumpah akan menuntut bela untuk majikannya.
       Mula mula mereka itu ada 100 orang lebih jadi ronin, kemudian tinggal 47 orang dan mereka ini berhasil membunuh Yoshinaka. Setelah niat mereka tercapai itu, tetapi boleh dijalani dengan melakukan harakiri. Peristiwa penuntutan bela berdasarkan kesetiaan kepada majikan itu mengharuskan seluruh bangsa. Krisis krisis agraria menimbulkan kesulitan keuangan pada Bakufu. Dalam masa damai yang panjang itu jumlah penduduk makin bertambah, tetapi penghidupan petani makin susah. Pada kira kira tahun 1720 jumlah penduduk Jepang  30 juta jiwa, bahan pangan yang tersedia untuk mereka sendiri tidak cukup, karena sebagian besar dari hasil pertanian dipungut sebagai pajak oleh negara. Pajak dibayar oleh petani natura terutama dengan padi. Pemungutan pajak itu dikuasakan oleh pemerintah kepada saudagar saudagar besar dalam perdagangan beras. Setelah pendapatan pajak itu diperhitungkan dalam uang, maka uang itu diserahkan kepada pemerintah, disini kita melihat suatu contoh peralihan dari Naturawirtschaft kepada Geldwirtschaft.
       Biasanya oleh pemerintah telah diminta uang muka dari para saudagar itu. Dalam waktu hasil pertanian tidak mencukupi, Bakufu dan para daimyo meminjam uang pada saudagar itu. Maka dengan demikian golongan saudagar jadi berpengaruh dalam politik. Kaum kapitalis itu menguasai perekonomian negara. Jalan lain yang ditempuh pemerintah untuk mengatasi kesulitan keuangan ialah dengan mengurangi nilai instrinsik logam dari mata uang dan mencetak uang kertas. Tetapi karena terlalu banyak logam yang dipotong dari mata uang dan terlalu banyak dikeluarkan uang kertas, terjadilah inflansi. Oleh krisis krisis ekonomi dan keuangan para daimyo banyak yang jatuh miskin dan terpaksa melepas sebagaian dari samurainya. Daimyo daimyo itu masih juga harus mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk mengongkosi kunjungan ke Yedo. Yang paling menderita adalah golongan petani.
       Sejak kira kira tahun 1766 berkali kali berkobar pemberontakan terhadap Bakufu, para daimyo dan kapitalis, tetapi biasanya ditindas dengan tangan besi. Timbulnya kembali perhatian kepada tradisi tradisi lama dan kepada Shintoisme mengemukakan dengan tegas anggapan tentang tenno sebagai keturunan Dewi Matahari. Shogunat dianggap bukan sebagai lembaga asli Jepang. Meluasnya pengetahuan yang hidup tentang zaman yang lampau sebagai akibat dari ketekunan memperdalami pelajaran sejarah, menanamkan kesadaran, bahwa kekuasaan shogun tidak syah, karena dizaman lampau tidak ada pemerintahan para shogun. Jabatan shogun dahulu memang ada, tetapi bukan sebagai kepala pemerintahan, melainkan panglima pasukan yang bertugas menindas pemberontakan.
       Didalam hati bangsa Jepang timbul keinginan untuk memulihkan kekuasaan tenno dan keinginan itu disertai kesadaran kebangsaan yang luas dan dalam  yang dibina oleh pelajaran sejarah. Maka dalam bagian kedua abad ke 18 lahir gerakan nasionalisme yang ingin menghidupkan kembali tradisi lama Jepang. Dan menarik perhatian bahwa yang mempelopori timbulnya gerakan itu orang dari keluarga Tokugawa sendiri. Kegiatan mempelajari sejarah dengan mendalam itu dimulai oleh daimyo daimyo fudai dari Mito, bernama Tokugawa Mitshukuni wafat 1700. Ia mulai menyusun kitab, yang kemudian diteruskan dan diselesaikan dalam zaman Meiji ( 1898-1912 ), menjadi kitab bernama Dai Nihonshi ( Sejarah Jepang Raja ). Gerakan anti Shogunat memustakan diri kepada tenno, memuliakan kembali Shintoisme dan mengagungkan pemerintahan tenno “dimasa dulu yang gemilang”. Sekedar untuk memenuhi tuntutan supaya kekuasaan dikembalikan kepada tenno, maka tenno setelah dewasa tidak dipaksa turun takhta seperti yang sudah sudah. Ketika keadaan dalam negeri sudah masak untuk pergolakan dari gerakan melawan shogunat, negara negara barat mengadakan desakan terus menerus, supaya Jepang mengakhiri politik sakokunya. Desakan desakan itu mempercepat keruntuhan shogunat. Daimyo daimyo disebelah selatan dan barat yang tidak pernah merasa berbahagia dibawah pemerintahan Tokugawa, yang terpenting diantara mereka keluarga keluarga : Satsuma, Chosu, Hizen dan Tosa. Mempersiapkan kekuatan untuk menjatuhkan Tokugawa.
       Gerakan anti-shogunat menjadi sangat hebat, setelah Jepang dipaksa denagn ancaman kekerasan senjata oleh Commodor Ferry dari Amerika membuka pintunya tahun 1854. Pada tahun 1867 berakhirlah kekuasaan Tokugawa dan Shogunat.
BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Sejak tahun 1590 Yedo jadi temapt kediamannya, tetapi baru sesudah pertempuran di sekigahara ( 1600 ) tempat  ini dijadikan olehnya ibukota pertempuran disekigahara ( 1600 ) tempat ini dijadikan olehnya ibukota dari Bakufu. Dalam tahun 1603 ia disyahkan oleh tenno dalam jabatan shogun. Karena masih keturunan dari Minamoto, maka ia dapat memakai pangkat itu, sebab sudah dijadikan tradisi, bahwa yang jadi shogun harus keturunan dari minamoto seperti haknya dengan ashikaga.
Kebudayaan zaman Zedo dengan kemajuan yang luar biasa disebut Cenroku  (1688-1704), disebut menurut nama tarikh yang hampir bersamaan dengan masa pemerintahan Shogun Tokugawa ke-5, Shogun Tsunayeshi (1680-1709). Didalamnya terlihat pengaruh sangat kuat dari golongan orang-orang kota. Keseniannya mengungkapkan semangat orang-orang kota.
 
 
 
DAFTAR PUSTAKA
Beasley, W. G. 2003. Pengalaman Jepang : Sejarah Singkat Jepang. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Agustini, Budi. Asia Timur. Diposkan pada 21 April 2011


EmoticonEmoticon