Makalah Zaman Munculnya Kerajaan-Kerajaan Arya Dan Pemerintahan Raja-Raja Maurya

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bangsa Arya sendiri termasuk dalam ras Indo Jerman. Awalnya bangsa Arya bermata pencaharian sebagai peternak kemudian setelah menetap mereka hidup bercocok tanam. Bangsa Arya merasa ras mereka yang tertinggi sehingga tidak mau bercampur dengan bangsa Dravida. Sehingga bangsa Dravida menyingkir ke selatan Pegunungan Vindhya.

Orang Arya mempunyai kepercayaan untuk memuja banyak Dewa (Polytheisme), dan kepercayaan bangsa Arya tersebut berbaur dengan kepercayaan asli bangsa Dravida yang masih memuja roh nenek moyang.

Berkembanglah Agama Hindu yang merupakan sinkretisme (percampuran) antara kebudayaan dan kepercayaan bangsa Arya dan bangsa Dravida. Terjadi perpaduan antara budaya Arya dan Dravida yang disebut Kebudayaan Hindu (Hinduisme). Istilah Hindu diperoleh dari nama daerah asal penyebaran agama Hindu yaitu di Lembah Sungai Indus/ Sungai Shindu/ Hindustan sehingga disebut kebudayaan Hindu yang selanjutnya menjadi agama Hindu.

Kerajaan Maurya merupakan salah satu kerajaan yang memegang peranan penting dalam sejarah Asia Selatan. Penemuan dan peninggalannya adalah penemuan penting yang dapat menjelaskan bagaimana peradaban masyarakat India jaman dahulu. Sejarah tentang eksistensi kerajaan ini perlu kita pelajari, karena pengaruhnya pada dunia dan peninggalan-peninggalannya yang masih sangat berguna hingga masa sekarang. Perlu diketahui bahwa peradaban pada masa ini telah dapat disejajarkan dengan peradaban-peradaban seperti Yunani, Mesir, dan Eropa yang telah maju
 
 
 


B. RUMUSAN MASALAH
  1. Bagaimana Timbulnya Zaman Kerajaan- Kerajaan Arya?
  2. Bagaimana Pemerintahan Raja- Raja Maurya?

C. TUJUAN MAKALAH
  1. Untuk Mengetahui Timbulnya Zaman Kerajaan- Kerajaan Arya?
  2. Untuk Mengetahui Pemerintahan Raja- Raja Maurya?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Zaman Timbulnya Kerajaan Arya

Kerajaan- kerajaan Arya pada waktu itu adalah Gandhara, Kosala, Kasi, dan Magadha. Kerajaan- kerajaan itu telah ada pada waktu hidupnya budha dan mahayira kurang lebih 600 tahun sebelum masehi. Budha berasal dari kapilawastu, letaknya dalam kerajaan Kosala. Kota suci agama Budha yang terdapat di sana seperti Bonares dan Gaya, kota- kota yang berhubungan erat dengan hidupnya Budha terdapat di Magadha. Rajanya waktu itu bernama Bimbisara.

Raja-raja Magadha yang terkenal ialah Sisunaga (642 SM), Bimbisara (582 SM), dan Ajatasatru, nama lain Kunika (554 SM). Bimbisara memperluas kerajaan Magadha dan menaklukan kerajaan-kerajaan di sekelilingnya. Di masa pemerintahan Ajatasatru agama Buddha dan Jaina mulailah bersaing untuk merebut kedudukan yang terpenting. Menurut berita di masa itu Devadatta seorang keponakan Buddha melawan agama Buddha dan mendirikan cabang agama baru yang mempunyai pengikut hingga abad ke-7, tarikh Masehi. Ajasatru memperluas kerajaan Magadha dan memindahkan ibukotanya ke Pataliputra, di tepi sungai Gangga. Kota itu amat mahsyur terlebih setalah menjadi ibu kota  kerajaan Maurya.

Beberapa tahun kemudian di waktu pemerintahan Udaya, cucu Ajatasaru (kurang lebih 516 SM) Darios dari Persia menaklukan daerah di Sindh dan Punjab, di hulu sungai Indus.Dalam berita-berita itu tertulis bahwa raja Persia mempunyai prajurit-prajurit bangsa India yang turut berjuang di tanah Yunani.Daerah- daerah yang ditaklukan diharuskan membayar upeti berupa emas.

Sejak abad ke-5 SM, sejarah kerajaan Magadha tidak begitu jelas lagi. Hal yang dapat dipercayai adalah kisah ini. Salah seorang keturunan Bimbasara yang tidak begitu besar kuasanya dibunuh dan diganti menterinya yang bernama Mahapadma Nanda dari golongan Sudra. Raja itulah asal keturunan 9 orang raja yang berturut-turut memerintah Magadha sampai tahun 322 SM. Pada tahun itu Nanda yang penghabisan dibunuh oleh oleh Chandragupta Maurya. Menurut dugaan ia adalah seorang keturunan Nanda juga akan tetapi kawin dengan perempuan kasta rendah. Dengan Chandragupta mulailah riwayat kejadian-kejadian di India jelas dan dapat ditentukan. Diwaktu pemerintahan raja itu, Magadha berhasil merebut kuasa yang seluas-luasnya. Akan tetapi dua tahun sebelum ia diangkat menjadi raja terjadilah peristiwa yang besar akibatnya bagi seluruh India, yaitu penyerbuan Iskandar Zulkarnain ke India utara.

1. Penyerbuan Iskandar Zulkarnain ke India

Iskandar Zulkarnain adalah seorang raja dan panglima besar Yunani yang mahsyur dalam sejarah Barat purbakala. Ayahnya memerintah dalam negeri kecil, yaitu Makedonia, bagian dari tanah Yunani. Waktu masih muda ia mendapat pendidikan yang luas, bukan dalam keprajuritan saja tapi dalam ilmu filsafat dan pemerintahan juga.

Ayahnya mempunyai cita-cita untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil di Yunani dan memperluas kerajaannya sampai ke daerah Asia, akan tetapi sebelum ia dapat menjalankannya, ia dibunuh oleh seorang penjahat.

Putra mahkota Iskandar juga yang pada ketika itu baru berumur 24 tahun menjadi raja di negeri Makedonia sebagai penggantinya. Iskandar mengadakan persediaan untuk meneruskan niat ayahnya itu. Di tahun 334 SM balatentaranya menyebrang selat Hellesponts yang memisahkan Eropa dengan Asia.

Dengan cepat seperti halilintar ia menaklukan Asia Muka (Turki sekarang), Syria, Palestina, Mesir, Persia, dan Baktria, sehingga di tahun 327 SM jadi sudah tujuh tahun sudah meninggalkan negerinya, balatentaranya tiba di batas India, negeri yang mengandung banyak rahasia kekayaan dan hasil-hasil kebudayaan yang mahsyur. Setelah didirikannya benteng-benteng pertahanan di tapal India dan Baktria. Maka tahun 327 SM turunlah ia ke lembah India melalui pegunungan Hindu – Kush dan jurang-jurang yang dalam.

Menurut berita, Iskandar mula-mula tidak mendapatkan perlawanan dalam negeri-negeri yang didudukinya. Di antara negeri yang terkenal itu ialah negeri Takkashila. Peninggalan kota itu sekarang masih nampak di dekat kota Rawalpindi. Ia menyebrangi hulu sungai India dan terus memasuki Punjab atau negeri lima sungai. Akan tetapi ketika melalui sungai Jhilam (dalam bahasa Yunani: Hydaspes) Iskandar mengalami perlawanan hebat yang belum pernah dialaminya dalam tujuh tahun, sejak ia menyerbu ke Asia. Tatkala Iskandar sampai di tepi sungai Jhilam, raja negeri Poros sudah siap sedia menantikan kedatangannya dengan tentara terdiri dari 30.000 serdadu berjalan, 4000 serdadu berkuda, 300 kereta perang yang ditarik empat ekor kuda, 200 gajah perang, semua membawa senjata yang lengkap.

Iskandar lebih dari tiga bulan terhambat dan terpaksa mengadakan persediaan untuk melawan, balatentara yang kuat itu. Akhirnya dapatlah ia menyerang pasukan gajah raja Poros itu dulu, sehingga terjadi kekacauan di antara binatang-binatang itu. Mereka menginjak serta membantingkan baik musuh maupun pasukan raja sendiri dengan belalainya sampai mati. Sesudah itu barulah pasukan berkuda mengepung dan menghalaukan balatentara Poros itu ke pinggir sungai Jhilam yang dalam itu. Tidak lama kemudian raja Poros terpaksa menyerah, setelah ia mendapat luka-luka yang parah. Iskandar menghormati musuhnya dan memerdekakan tawanan semuanya, mereka berjanji akan berkerja sama dengan orang Yunani.

Tiba di tepi sungai bias, balatentara Iskandar mogok dan mengatakan tidak bersedia berperang lagi, melainkan hendak pulang ke Yunani yang tujuh tahun mereka tinggalkan. Dengan bijaksana Iskandar memenuhi kemauan tentaranya dan mengumumkan supaya perang di India diselesaikan pada tempat itu saja. Sebelum balik ke Yunani, Iskandar mendirikan dua belas candi sebagai tanda peringatan dan tanda perasaan berterima kasih kepada dewa-dewa kebangsaan. Peristiwa itu terjadi pada tahun 326 SM.

Iskandar menganggap negeri-negeri itu semuanya masuk bagian-bagian kerajaannya dan ia berharap akan lekas kembali ke India. Sebagai wakilnya untuk memerintah negeri-negeri yang takluk itu diangkatnya  Raja Poros. Akan tetapi kedatangan ajalnya tidak dapat dielakkan dan dengan wafatnya tidak lama kemudian, India terlepas dari kerajaan Yunani Meskipun penjajahan politik lenyap dari India tidak berarti peristiwa itu tidak ada akibatnya.

Karena sejak itu terjadilah hubungan yang erat antara India dengan negeri Barat. Perhubungan lalu lintas yang melalui jurang Khaibar sudah terbuka juga pertalian dengan kota-kota di pantai Persia. Hasil dan bahan-bahan dari india mulai mengalir ke negeri Barat dan sejak zaman itu terjadilah perhubungan antara Timur dan Barat. Demikian juga kebudayaan Hellenisme yang disebarkan Iskandar di Asia Muka, lambat laun masuk juga ke dalam kebudayaan India Kuno.

B. Pemerintahan Raja-Raja Maurya

Sejak terdengar kabar wafatnya Iskandar di India, penduduk negeri itu langsung bertindak merebut kemerdekaannya dengan dipimpin oleh Chandragupta keturunan Raja Nanda di Magadha. Diantara panglima-panglima Raja Iskandar ada seorang diantara mereka bernama Seleukos yang menguasai daerah bagian Timur yang melingkungi India utara. Dalam tindakannya ia dikalahkan oleh Chandragupta sehingga ia terpaksa berdamai ditahun 305 SM. Perdamaian itu amat besar artinya karena semenjak itu Seleukos mempunyai utusan di Pataliputra bernama Meghastenes. Ia menuliskan pengalamannya dengan rapi dan teliti.

Surat-suratnya tersimpan dan menjadi sumber yang amat berharga untuk mengetahui keadaan kerajaan Chandragupta pada masa itu (322-298 SM) dan putranya yaitu Raja Bindusara (298-172 SM). Setelah Chandragupta menjadi Raja ia menulis undang-undang dan dinamai Kautilya-Arthasastra. Kitab itu juga mengandung hal-hal yang berharga untuk sejarah India lama, dan baru ditemukan di Tanjore oleh seorang ahli Hindu Shamasastri ditahun 190.

Kitab Arthasastra menggambarkan Magadha sebagai suatu negeri yang maju dan mempunyai kebudayaan tinggi serta cara pertahanan yang teratur. Pusat segala kuasa adalah raja, di samping raja ada suatu badan penasihat tinggi. Pembesar negeri menerima gaji yang cukup supaya mereka tidak memeras penduduk.

Pertahanan di dalam negeri kuat sekali. Menurut keterangan Megasthenes bala tentara Magadha terdiri dari 600.000 serdadu berjalan, 30.000 serdadu menunggang kuda, 9000 ekor gajah dan 8000 kereta perang. Berita dari kaum Jaina, raja Chandragupta menarik diri dari pemerintahan dan menjadi pengikut Jaina sebab ia merasa berdosa terhadp rakyatnya sesudah terjadi kelaparan yang hampir 10 tahun lamanya. Ia diganti oleh putranya Bindusara (298-272 SM).

Riwayat raja ini tidak begitu terang. Ia diganti oleh putranya yang mendapat nama mashur dalam sejarah India ialah Ashoka Vardhana (272-232 SM). Sebelum naik tahta ia memegang kuasa raja muda di India Barat. Ia mengganti ketika masih remaja. Berlainan dengan nenek dan ayahnya, ia ternyata seorang yang lemah lembut, ramah dan suka berbakti, setia kepada agama dan mengasihi rakyatnya.

Ia terpaksa berperang untuk mengadakan ketentraman di Deccan dan menaklukkan Kerajaan Kalingga. Setelah Raja Ashoka mendengar bahwa peperangan itu lebih kurang dari 100 ribu orang Kalingga binasa dan 150 ribu orang ditawan, ia amat sedih dan bersumpah tidak akan mengangkat senjata lagi untuk selama-lamanya. Makin lama tampak kerinduan raja untuk memeluk agama Budha.

Dengan resmi Raja Ashoka meninggalkan Agama Brahma, memeluk Agama Budha. Dari sikap raja ini teranglah bahwa agama Budha mendapat kedudukan sebagi agama kerajaan. Atas titah raja didirikan lebih kurang 48 ribu buah stupa. Untuk anaknya, Puteri Charumati yang sungguh berbakti kepada raja didirikan beberapa wihara bagi kaum wanita.

Sewaktu pemerintahan Ashoka seluruh India hampir dapat disatukan. Sejak itu dari pulau itu tiap tahun beratus-ratus orang berziarah ke daerah Benares. Sejak zaman Ashoka sampai sekarang pulau Zaeland adalah pusat pertahanan agama Budha. Hal penting dalam sejarah pemerintahan Ashoka dan yang memashurkan namanya sampai sekarang ialah tulisan (prasasti) yang dipahat pada dinding dan tiang batu (zuilen). Sampai sekarang prasasti itu masih terpelihara serta dapat diselidiki dan ditafsirkan isinya oleh ahli-ahli kesusasteraan India.

Terang pula kesucian rohani raja itu sebab dari susunan kata-kata dan perasaan batin dalam prasasti itu dapat dirasakan bahwa isi yang terpahat dari sanubari raja sendiri, bukan buah pikiran menteri atu pandit raja. Pendidikan masyarakat saat itu didasarkan pada agama Budha. Oleh sebab itu, Ashoka memerintahkan supaya tiap-tiap orang menghormati orang tuanya, leluhurnya dan orang-orang di atasnya. Perbuatan Ashoka yang penting berhubungan dengan ibadah ialah mendirikan rumah sakit dan rumah miskin serta menyediakan pondok untuk hewan yang sakit.

Kemashuran Ashoka sebagai raja dikarenakan perbuatan sikapnya yang bijaksana, beragama, berpendirian atas kemanusiaan dan mengakui hak kemerdekaan dari semua agama. Ternyata pemerintahan Ashoka merupakan kekuasaan yang mencapai puncak kejayaannya.

Setelah wafatnya Ashoka, kaum Brahma yang merasa kedudukannya amat dibelakangkan mengajak rakyat supaya melawan raja Dasaratha, putra Asoka. Akhirnya keturunan Asoka hanya dapat mempertahankan sebagian dari kerajaan itu. Tahun 185 SM raja Maurya Brihadratha dibunuh oleh panglima perang Pushyamitra Sunga yang bertujuan merebut kekuasasan dari raja yang lemah.

Keturunan Sunga memerintah 112 tahun lamanya. Mula-mula Raja Kalingga yang ditaklukkan Ashoka merebut kembali kerajaannya sehingga Pushyamitra terpaksa mengadakan perdamaian. Raja-raja Sunga tidak menyukai agama Budha dengan dihidupkan lagi kebiasaan melakukan pengorbanan kuda.

Raja- raja Sunga tidak begitu menyukai agama Budha, mereka memihak pada ajaran Brahma. Ajaibnya adalah pengorbanan kuda (asvamedha), yaitu seekor kuda yang berwarna luar biasa dihiasi dan dilepaskan. Kuda yang dilepaskan itu diiringi oleh tentara. Daerah- daerah yang dilalui kuda itu harus tunduk kepada Raja yang melepaskan kudia itu. Jika tidak mau tunduknlalu diperangi. Sesudah 1 tahun dilepaskan, lalu ditangkap.

Kemudian dibawa ke istana dan disembelih dalam satu upacara yang besar. Menyembelih kuda ini berlawanan dengan ajaran agama Budha. Selama 1 tahun, yaitu selama kuda itu dilepaskan di istana senantiasa diadakan pesta yang besar oleh Raja. Disini terlihat bahwa Raja hendak memperlihatkan kekuasaannya dan kekayaannya. Lima tahun kemudian korban kuda ini dilakukan pula oleh Raja Samudra Gupta.

Kemudian raja Sunga terakhir adalah lemah, sehingga merupakan boneka saja oleh menterinya Vasudewa, namun menterinya Vasudeva yang akhirnya menjadi penggantinya dengan cara membunuhnya (73 SM). Keturunannya bernama Kanva memerintah selama 45 tahun dan diganti oleh raja Andhra terdiri dari 30 turunan dan memerintah  hampir 250 tahun lamanya, sampai tahun 225 masehi.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Kerajaan- kerajaan Arya pada waktu itu adalah Gandhara, Kosala, Kasi, dan Magadha. Kerajaan- kerajaan itu telah ada pada waktu hidupnya budha dan mahayira kurang lebih 600 tahun sebelum masehi. Budha berasal dari kapilawastu, letaknya dalam kerajaan Kosala. Kota suci agama Budha yang terdapat di sana seperti Bonares dan Gaya, kota- kota yang berhubungan erat dengan hidupnya Budha terdapat di Magadha.

Kemashuran Ashoka sebagai raja dikarenakan perbuatan sikapnya yang bijaksana, beragama, berpendirian atas kemanusiaan dan mengakui hak kemerdekaan dari semua agama. Ternyata pemerintahan Ashoka merupakan kekuasaan yang mencapai puncak kejayaannya. Setelah wafatnya Ashoka, kaum Brahma yang merasa kedudukannya amat dibelakangkan mengajak rakyat supaya melawan raja Dasaratha, putra Asoka. Raja-raja Sunga tidak menyukai agama Budha dengan dihidupkan lagi kebiasaan melakukan pengorbanan kuda. Raja- raja Sunga tidak begitu menyukai agama Budha, mereka memihak pada ajaran Brahma.
 
 


DAFTAR PUSTAKA
 
Ali, Mukti. Agama-Agama Dunia. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press. Cet. 1.1988
Drs. Syofyan Naim. Sejarah Asia Selatan Zaman Kuno dan Zaman Pengaruh Islam, 1988 (IKIP) Padang
Djam’annuri. Agama Kita: Perspektif Sejarah Agama-Agama.Yogyakarta: Kurnia Alam Semesta. Cet. 2. -
Gudamani. Pengantar Agama Hindu Untuk Perguruan Tinggi.Jakarta:Yayasan Wisma Karma. 1987
Mulia. INDIA: Sejarah Politik dan Pergerakan Kebangsaan.Jakarta:Balai Pustaka.Cet. 1. 1959


EmoticonEmoticon