Makalah Usaha-Usaha Yang Dilakukan Rakyat Dalam Dunia Pendidikan Yang Berhaluan Politik

BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Pendidikan sudah sepatutnya menentukan masa depan suatu negara. Bila visi pendidikan tidak jelas, yang dipertaruhkan adalah kesejahteraan dan kemajuan bangsa. Visi pendidikan harus diterjemahkan ke dalam sistem pendidikan yang memiliki sasaran jelas, dan tanggap terhadap masalah-masalah bangsa. Karena itu, perubahan dalam subsistem pendidikan merupakan suatu hal yang sangat wajar, karena kepedulian untuk menyesuaikan perkembangan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. dengan lahirnya orde barudan tumpasnya pemberontakan PKI, maka mulailah suatu era baru dalam usaha menempatkan pendidikan sebagai suatu usaha untuk menegakkan cita-cita proklamasi 17 agustus 1945.

 Banyak usaha-usaha yang memerlukan kerja keras dalam rangka untuk mewujudkan suatu sistem pendidikan yangb betul-betul sesuai dengan tekad orde baru sebagai orde pembangunan. Namun pada masa inipun pendidikan belum dikatakan berhasil sepenuhnya, maka pada masa berikutnya yaitu masa reformasi diperlukan adanya pembenahan, baik dalam bidang kurikulum, dimana kurikulum harus ditinjau paling sedikit lima tahun.

B.       Rumusan Masalah
  1. Bagaimana sejarah perkembangan Taman Siswa?
  2. Siapakah pendiri Taman Siswa?
  3. Apakah Upaya yang dilakukan taman siswa untuk pribumi?
  4. Siapakah pendiri Kesatrian Instituut?
  5. Apakah Tujuan di dirikanya Kesatrian Instituut?
  6. Apakah tujuan Muhammad Syafe’i mendirikan sekolah?
C.    Tujuan Makalah
1.    Memahami tentang sejarah perkembangan Taman Siswa
2.    Mengetahui pendiri dari Taman Siswa
3.    Mengetahui upaya yang dilakukan taman siswa untuk masyarakat pribumi
4.    Mengetahui pendiri Kesatrian Instituut
5.    Mengetahui tujuan dari di dirikanya kesatrian institut
6.    Mengetahui tujuan dari muhammad syafe’i mendirika sekolah
 
 
 

BAB II
PEMBAHASAN

A.      PENDIDIKAN TAMAN SISWA

Taman Siswa berdiri pada tanggal 3 Juli 1922, Taman Siswa adalah badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat yang menggunakan pendidikan dalam arti luas untuk mencapai cita-citanya. Bagi Tamansiswa, pendidikan bukanlah tujuan tetapi media untuk mencapai tujuan perjuangan, yaitu mewujudkan manusia Indonesia yang merdeka lahir dan batinnya. Merdeka lahiriah artinya tidak dijajah secara fisik, ekonomi, politik, dsb; sedangkan merdeka secara batiniah adalah mampu mengendalikan keadaan.

Bebicara Taman Siswa tidak bisa lepas dari pendirinya yaitu Raden Mas Soewardi Soeryaningrat atau yang biasa di kenal dengan Ki Hajar Dewantara. Beliau mendirikan Taman Siswa bertujuan untuk pendidikan pemuda Indonesia dan juga sebagai alat perjuangan bagi rakyat Indonesia. Tujuan Taman Siswa adalah membangun anak didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, merdeka lahir batin, luhur akal budinya, cerdas dan berketerampilan, serta sehat jasmani dan rohaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air, serta manusia pada umumnya. Meskipun dengan susunan kalimat yang berbeda namun tujuan pendidikan Taman Siswa ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional.

1. Berdirinya Taman Siswa

Taman siswa berdiri pada 3 Juli 1922, pendirinya adalah Raden Mas Soewardi Soeryaningrat atau yang biasa dikenal dengan Ki Hajar Dewantara. Awal pendirian Taman Siswa diawali dengan ketidakpuasan dengan pola pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial, karena jarang sekali negara kolonial yang memberikan fasilitas pendidikan yang baik kepada negara jajahannya. Seperti yang dikatakan oleh ahli sosiolog Amerika “pengajaran merupakan dinamit bagi sistem kasta yang dipertahankan dengan keras di dalam daerah jajahan”. Oleh sebab itu maka didirikanlah Taman Siswa, berdirinya Taman Siswa merupakan tantangan terhadap politik pengajaran kolonial dengan mendirikan pranata tandingan. Taman Siswa adalah badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat yang menggunakan pendidikan dalam arti luas untuk mencapai cita-citanya. Bagi Taman Siswa, pendidikan bukanlah tujuan tetapi media untuk mencapai tujuan perjuangan, yaitu mewujudkan manusia Indonesia yang merdeka lahir dan batinnya. Merdeka lahiriah artinya tidak dijajah secara fisik, ekonomi, politik, dsb, sedangkan merdeka secara batiniah adalah mampu mengendalikan keadaan.

Dengan proses berdirinya Taman Siswa Ki Hajar Dewantara telah mengesampingkan pendapat revolusioner pada masa itu, tetapi dengan seperti itu secara langsung usaha Ki Hajar merupakan lawan dari politik pengajaran kolonial. Lain dari pada itu kebangkitan bangsa-bangsa yang dijajah dan perlawanan terhadap kekuasaan kolonial umumnya disebut dengan istilah nasionalisme atau paham kebangsaan menuju kemerdekaan. Taman Siswa mencita-citakan terciptanya pendidikan nasional, yaitu pendidikan yang beralas kebudayaan sendiri. Dalam pelaksanaanya pendidikan Taman Siswa akan mengikuti garis kebudayaan nasional dan berusaha mendidik angkatan muda di dalam jiwa kebangsaan. 
Pendidikan Taman Siswa dilaksanakan berdasar Sistem Among, yaitu suatu sistem pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan. Dalam sistem ini setiap pendidik harus meluangkan waktu sebanyak 24 jam setiap harinya untuk memberikan pelayanan kepada anak didik sebagaimana orang tua yang memberikan pelayanan kepada anaknya. Sistem Among tersebut berdasarkan cara berlakunya disebut Sistem Tut Wuri Handayani. Dalam sistem ini orientasi pendidikan adalah pada anak didik, yang dalam terminologi baru disebut Student Centered. Di dalam sistem ini pelaksanaan pendidikan lebih didasarkan pada minat dan potensi apa yang perlu dikembangkan pada anak didik, bukan pada minat dan kemampuan apa yang dimiliki oleh pendidik. Apabila minat anak didik ternyata akan ke luar “rel” atau pengembangan potensi anak didik di jalan yang salah maka pendidik berhak untuk meluruskannya.

Untuk mencapai tujuan pendidikannya, Taman Siswa menyelanggarakan kerja sama yang selaras antar tiga pusat pendidikan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan perguruan, dan lingkungan masyarakat. Pusat pendidikan yang satu dengan yang lain hendaknya saling berkoordinasi dan saling mengisi kekurangan yang ada. Penerapan sistem pendidikan seperti ini yang dinamakan Sistem Trisentra Pendidikan atau Sistem Tripusat Pendidikan. Pendidikan Taman siswa berciri khas Pancadarma, yaitu Kodrat Alam (memperhatikan sunatullah), Kebudayaan (menerapkan teori Trikon), Kemerdekaan (memperhatikan potensi dan minat maing-masing indi-vidu dan kelompok), Kebangsaan (berorientasi pada keutuhan bangsa dengan berbagai ragam suku), dan Kemanusiaan (menjunjung harkat dan martabat setiap orang).

2. Reaksi Pemerintah Kolonial Terhadap Taman Siswa

Taman Siswa bisa dianggap sebagai tempat pemupukan kader masyarakat Indonesia dimasa mendatang dan yang sudah pasti akan berusaha pula untuk menumbangkan kekuasaan kolonial. Oleh karena itu pemerintah kolonial berusaha untuk menghalang-halangi perkembangan Taman Siswa khususnya, dan sekolah-sekolah partikelir umumnya. Sejak itu, Taman Siswa menghadapi perjuangan asasi, melawan politik pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1931 timbul pendapat dikalangan orang Belanda yang memperingatkan pemerintah, bahwa apabila tidak diadakan peninjauan kembali, Taman Siswa akan menguasai keadaan dalam tempo sepuluh tahun.

Pemerintah konservatif Gubernur Jenderal de jonge menyambut kegelisahan orang Belanda dengan mengeluarkan “ordonansi pengawasan” yang dimuat dalam Staatsblad no. 494 tanggal 17 September 1932. Isi dan tujuan dari ordonansi itu ialah memberi kuasa kepada alat-alat pemerintah untuk mengurus wujud dan isi sekolah-sekolah partikelir yang tidak dibiayai oleh negeri. Sekolah partikelir harus meminta izin lebih dahulu sebelum dibuka dan guru-gurunya harus mempunyai izin mengajar. Rencana pengajaran harus pula sesuai dengan sekolah-sekolah negeri, demikian juga peraturan-peraturannya. Ordonansi itu menimbulkan perlawanan umum dikalangan masyarakat Indonesia dan dimulai oleh prakarsa Ki Hajar Dewantara yang mengirimkan protes lewat telegram kepada Gubernur Jenderal di Bogor pada tanggal 1 Oktober 1932.

Pada tanggal 3 Oktober 1932 Ki Hajar Dewantara mengirimkan maklumat kepada segenap pimpinan pergerakan rakyat, dan menjelaskan lebih lanjut sikap yang diambil Taman Siswa. Aksi melawan ordonansi ini disokong sepenuhnya oleh 27 organisasi, antara lain Istri sedar, PSII, Dewan Guru Perguruan Kebangsaan di Jakarta, Budi Utomo, Paguyuban Pasundan, Persatuan Mahasiswa, PPPI, Partindo, Muhammadiyah, dan lain-lainnya. Golongan peranakan Arab dan Tionghoa juga menyokong aksi ini. Pers nasional tidak kurang menghantam ordonansi itu melalui tajuk rencananya. Mohammad Hatta sebagai pemimpin Pendidikan Nasional Indonesia, menganjurkan supaya mengorganisasi aksi yang kuat. Pada bulan Desember 1932, Wiranatakusumah, anggota Volksraad mengajukan pertanyaan pada pemerintah dan disusul pada bulan Januari 1933 dengan sebuah usul inisiatif. Usul inisiatif yang disokong oleh kawan-kawannya di Volksraad, berisi: menarik kembali ordonansi yang lama serta mengangkat komisi untuk merencanakan perubahan yang tetap. Budi Utomo dan Paguyuban Pasundan mengancam akan menarik wakil-wakilnya dari dewan-dewan, apabila ordonansi ini tidak dicabut pada tanggal 31 Maret 1933. Juga dikalangan para ulama aksi melawan ordonansi sekolah liar ini mendapat sambutan, terbukti dengan adanya rapat-rapat Persyarikatan Ulama di Majalengka dan Ulama-ulama Besar di Minangkabau. Pemerintah terkejut akan tekad perlawanan akan masyarakat Indonesia dan setelah mengeluarkan beberapa penjelasan dan mengadakan pertemuan dengan Ki Hajar Dewantara, akhirnya dengan keputusan Gubernur Jenderal tanggal 13 Februari 1933 ordonansi Sekolah liar diganti dengan ordonansi baru.

Perlawan Taman Siswa terhadap ordonansi sekolah liar merupakan masa gemilang bagi sejarahnya, yang juga berarti mempertahankan hak menentukan diri sendiri bagi bangsa Indonesia. Sesudah itu Taman Siswa akan mengadakan lagi perlawanan terhadap peraturan pemerintah kolonial yang dapat dianggap merugikan rakyat. Pada tahun 1935 Taman Siswa mempunyai 175 cabang yang tersebar di sekolahnnya ada 200 buah, dari mulai sekolah rendah hingga sekolah menengah.

3. Sikap Taman Siswa Pada Revolusi Dan Indonesia Merdeka.

Pada saat setelah Indonesia merdeka Taman Siswa mengadakan Rapat Besar (Konferensi) yang ke-9 di Yogyakarta. Tapi pada masa kemerdekaan ini tidak semua guru Taman Siswa menyadari akan datang juga masa baru untuk Perguruan nasional mereka. Dalam Rapat besar itu terdapat tiga pendapat dikalangan Taman Siswa dalam menghadapi kemerdekaan.

Pertama, pendapat bahwa tugas Taman Siswa telah selesai dengan tercapainya Indonesia merdeka. Karena menurut pendukung pendapat ini, peran taman siswa sebagai penggugah keinsafan nasional sudah habis, dan faktor melawan pemerintah jajahan tidak ada lagi. Kedua, Taman Siswa masih perlu ada, sebelum pemerintah Republik dapat mengadakan sekolah-sekolah yang mencukupi keperluan rakyat. Lagi pula isi sekolah-sekolah negeri pun belum dapat diubah sekaligus sebagai warisan sistem pengajaran yang lampau. Ketiga, sekolah-sekolah partikelir yang memang mempunyai dasar sendiri tetap diperlukan, walaupun nantinya jumlah sekolah sudah cukup dan isinya juga sudah nasional.

Perbedaan pendapat dikalang Taman Siswa membawa dampak yang tidak bisa dielakan, para pendukung pendapat pertama banyak yang meninggalkan Taman Siswa. Taman Siswa banyak ditinggalkan oleh pendukung akatif yang tahan uji. Namun hal ini tidak mengherankan karena sebenarnya orang-orang Taman Siswa hanya berpindah tempat mengisi kemerdekaan. Misal saja bapak Taman Siswa sendiri, Ki Hajar Dewantara, pada awal kemerdekaan menjadi Mentri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama didalam pemerintahan. Bagi Taman Siswa sendiri yang terpenting ialah pembentukan panitia yang berkewajiban meninjau kembalinya peraturan Taman Siswa dengan segala isinya. Panitia ini diketuai oleh S. Manggoensarkoro dan kesimpiulan panitia ini diterima dalam Rapat Besar Umum (Kongres) V di Yogyakarta pada bulan Desember 1947.

Pada masa itu, Belanda sudah memulai aksi militernya yang pertama pada 21 Juli 1947, sehingga Rapat Besar Umum, membahas tentang kedudukan cabang-cabang di daerah pendudukan. Di daerah pendudukan Belanda muncul sebutan “sekolah liar” tapi tidak hanya sekolah partikelir saja tapi sekolah republik pun dinyatakan “sekolah liar” ketika sekolah di Jakarta ditutup, maka gedung Taman Siswa di jalan Garuda 25 dibanjiri oleh murid-murid. Semangat yang luar biasa ditunjukan oleh sekolah Taman Siswa yang berada di daerah pendudukan, mereka berusaha mempertahankan sekolah mereka meski Majelis Luhur di Yogyakarta tidak menyetujui diteruskanya sekolah di daerah pendudukan. Tapi akhirnya majelis Luhur mengizinkan untuk membuka terus cabang-cabang Taman Siswa di daerah pendudukan.

4. Pengaruh Ki Hajar Dewanlara dalam Perkembangan Pendidikan Nasional

Ki Hajar Dewantara adalah bapak Pendidikan Nasional Indonesia, karena merupakan orang pertama yang mendirikan Perguruan Nasional yang didasarkan pada konsep pendidikan yang berjiwa nasionalisme Indonesia yang bersifat kultural Disamping itu, beberapa konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara masih tetap dipergunakan dalam penyelenggaraan pendidikan nasional Indonesia zaman merdeka. Konsep pendidikan sebagai proses pembudayaan dipergunakan dalam Tap MPR No II/MPR/1988. Semboyan "Tut wuri andayani" dijadikan motto Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Prinsip mengutamakan pemerataan pendidikan dijadikan dasar pembangunan pendidikan. Perlunya sistem pengajaran nasional dijadikan isi salah satu ayat dari pasal pendidikan dalam Undang-Undang Dasar 1945. Tetapi hal yang terpenting adalah jiwa nasionalisme. Ki Hajar Dewantara telah memberi corak dalam perkembangan pendidikan Nasional Indonesia.

B.       PENDIDIKAN KSATRIAN INSTITUT

Di Bandung pada 1924 didirikan Ksatrian Instituut oleh salah satu tokoh pergerakan nasional Indo-Belanda Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (E.F.E.) Douwes Dekker yang kemudian dikenal sebagai Dr. Danoedirdja Setiabudhi. Douwes Dekker lahir pada 8 Oktober 1879 di Pasuruan Jawa Timur, dari seorang ibu berdarah Indonesia dan ayah Belanda.

Setelah kembali dari pengasingannya di Belanda, Douwes Dekker, yang merupakan salah seorang mantan pemimpin Indische Partij ini berniat untuk menjadi guru pada sebuah sekolah rendah (sekolah dasar) yang dipimpin oleh Ny. H.E Meyer Elenbaas di Jalan Kebon Kelapa 17 Bandung. Niatnya ini terlaksana pada September 1922, setelah mendapat izin dari gubernur jenderal. Pada 1923 muncul Preanger Instituut van de Vereeniging Volksonderwijs (Instituut Pengajaran Priangan dari Perkumpulan Pengajaran Rakyat di Bandung) dari bekas sekolah ini, dan kemudian ia menjadi kepala MULO (setara dengan SMP). Tujuan sekolah ini adalah memberikan kesempatan pendidikan yang luas kepada anak-anak pribumi.

Selanjutnya, lembaga ini dirubah oleh Douwes Dekker dengan nama Ksatrian Instituut pada November 1924. Di lembaga pendidikan inilah Douwes Dekker berusaha menanamkan jiwa nasionalisme kepada murid-muridnya. Seolah ini menjadi wadah baru baginya untuk bergerak “melawan kolonialisme dengan cara yang lain”.

Ksatrian Instituut ini menitikberatkan pada usaha pengajaran berdasar jiwa nasional dan pendidikan ke arah manusia yang berpikiran merdeka. Pada mulanya, Ksatrian Instituut hanya memiliki 60 orang murid saja di Bandung, tetapi semakin lama berkembang dan mempunyai sekolah rendah di daerah Ciwidey, Cianjur, dan Sukabumi. sekolah ini terbuka bagi orang-orang pribumi, peranakan Tionghoa, maupun Indonesia.

Berbeda dengan lembaga pendidikan buatan pemerintah kolonial, Ksatrian Instituut lebih memiliki orientasi jauh ke depan. Mereka menyiapkan para lulusan sekolah rendah untuk menjadi orang-orang yang mempunyai kejuruan. Oleh sebab itu Moderne Middlelbare Handelsschool (MMHS), yang merupakan sekolah menengah dagang didirikan. Ini adalah sekolah dagang pertama di Hindia Belanda ketika itu.  Sebagai sebuah sekolah dagang tentu saja mengajarkan berbagai teori perdagangan, seperti psikologi perdagangan, bahasa yang diperlukan untuk melakukan perdagangan dengan bangsa lain, teknik dagang, sampai masalah periklanan (reklame). Selain itu, dibuka juga jurusan jurnalistik untuk murid-muridnya guna melahirkan jurnalis-jurnalis yang kritis dan berkepribadian nasional.

Di dalam MMHS pada 1 Agustus 1935 dibuka juga sekolah pendidikan guru. Sekolah guru ini dimaksudkan agar tercapai; pengajar-pengajar yang baik dan terspesialisasi; terbentuk dengan cepat bala-tentara guru: pendidikan yang murah, yang berarti keuntungan bagi negeri, gaji rendah, tempo yang lebih cepat untuk perluasan sekolah rakyat, dan dengan demikian menciptakan basis yang luas bagi perkembangan bangsa. Dengan dibukanya sekolah-sekolah lanjutan ini, para lulusannya dipersiapkan untuk mampu berdiri di atas kaki sendiri dan menjalani hidup tanpa membebani orang lain.

Ksatrian Instituut juga berusaha mengalihkan tujuan pengajaran pada sekolah-sekolah pemerintah, yang hanya menimbulkan pengangguran dan mencetak pegawai negeri belaka. Masalah kesehatan siswa juga merupakan prioritas dari Ksatrian Instituut. Perguruan ini memiliki dokter pengawas kesehatan, dan tercatat sebagai sekolah yang mempunyai dokter pengawas anak-anak yang pertama di Hindia Belanda. 

Selain itu Ksatrian Instituut juga berusaha mandiri dengan menerbitan buku-buku pelajarannya sendiri. Buku-buku pelajaran yang dihasilkan di antaranya yaitu buku-buku bahasa, sejarah pertumbuhan lalu lintas di dunia, tata bahasa Jepang, sejarah kuno Indonesia, sejarah dunia, dan buku statistik. Pada Agustus 1937, Ksatrian Instituut juga berhasil menerbitkan majalah murid dan orang tua yang berjudul De Ksatria, Maandblad van de Leerlingen van Alle Ksatrian Scholen en Hun Ouders, yang di pimpin oleh R.M.Hoedojo Hoeksamadiman.

Pada 1940, Douwes Dekker ditangkap oleh pemerintah kolonial. Pemerintah menuduhnya telah bekerjasama dengan Jepang. Tuduhan tersebut merupakan alasan yang dicari-cari untuk menangkapnya. Ia memang berencana untuk mengirim para pelajar lulusan Ksatrian Instituut ke Jepang, namun dia sama sekali tidak sepakat dengan ideologi fasisme. Karena keberadaannya sudah tidak memungkinkan lagi untuk memimpin Ksatrian Instituut, maka pada Februari 1941, ia mengalihkan keberlangsungan Ksatrian Instituut kepada isterinya, Ny.Johanna Petronella Douwes Dekker.

C.  USAHA YANG DI LAKUKAN MUHAMMAD SYAFE”I (1896-1966)

la lahir di Sumatera Barat pada tanggai 21 Januari 1896, dan mengenal karya-karya orang besar di dunia melalui ceritera yang disampaikan oleh ibu dan bapaknya. Selama duduk di Sekolah Guru di Bukit tinggi, Muhammad Syafei mendapat kiriman tulisan-tulisan dr. Cipto Mangunkusumo dan dr. Douwes Dekker dari orangtuanya. Hal ini membangkitkan rasa nasionalismenya, rasa cinta kepada bangsa dan tanah air.  Muhammad Syafei pernah mengajar di Sekolah Kartinidi Jakarta, dan memasukkan pelajaran pekerjaan tangan sebagai mata pelajaran fakultatif atau pilihan. Usaha ini mendapat dukungan dari Kepala Sekolah dan perkumpulan Sekolah Kartini. Usahanya berhasil, ternyata bahwa mata pelajaran pekerjaan tangan tidak menghambat pelajaran lainnya.

 Pada tahun 1922, Muhammad Syafei meneruskan pelajaran ke Negeri Belanda dengan tujuan memperluas wawasan dan pengalaman, agar dapat menjawab pertanyaan, bagaimanakah corak pendidikan dan pengajaran yang sesuai dengan jiwa bangsa Indonesia yang dapat mencerdaskan otaknya. Setelah mempelajari, menyelami, dan mempertimbangkan baik-buruknya, sampailah pada kesimpulan bahwa pendidikan dan yang tepat diberikan kepada-bangsa Indonesia adalah pendidikan dan pengajaran yang mampu mengaktijkan murid. Berdasarkan keyakinan tersebut, Muhammad Syafei mendirikan sebuah sekolah diberi nama Indonesische Nederland School (INS) di Kayutanam, Sumatera Barat pada tanggal 31 Oktober 1926. INS Kayutanam telah mengalami kehancuran fisik dalam tahun 1949 usaha membangun kembali sampai sekarang masih berhasil. Muhammad Syafei pernah menjadi Menteri Pengajaran dalam Kabinet Syahrir II, 12 Maret 1946-2 Oktober 1946.

1.  Dasar Filosofis

a. Nasionalisme

       Muhammad Syafei mendasarkan konsep pendidikannya pada nasionalisme dalam arti konsep dan praktek penyelenggaraan pendidikan INS Kayutanam didasarkan pada cita-cita menghidupkan jiwa bangsa Indonesia dengan cara mempersenjatai dirinya dengan alat daya upaya yang dinamakan aletif kreatif untuk menguasai alam. Semangat nasionalismenya yang sedang tumbuh menimbulkan pertanyaan, mengapa bangsa Belanda yang jumlahnya sedikit dapat menguasai bangsa Indonesia yang jumlahnya sangat besar. Pertanyaan ini dapat dipecahkan setelah berada dan hidup di tengah-tengah masyarakat Belanda.

Ternyata bahwa faktor alam dan lingkungan masyarakat mempengaruhi jiwa manusia. Jelas kiranya bahwa nasionalisme Muhammad Syafei adalah nasionalisme pragmatis yang didasarkan pada agama, yaitu nasionalisme yang tertuju pada membangun bangsa melalui pendidikan agar menjadi bangsa yang pandai berbuat untuk kehidupan manusia atas segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan. Muhammad Syafei menyatakan bahwa Tuhan tidak sia-sia menciptakan manusia dan alam lainnya.
 
 

BAB III
PENUTUP
A.      KESIMPULAN

Dari makalah diatas kami dapat menyimpulkan bahwa usaha-usaha rakyat dalam dunia pendidikan yang berhaluan politik diantaranya adalah didirikanya Taman Siswa oleh Raden Mas Soewardi Soeryaningrat atau yang biasa dikenal dengan Ki Hajar Dewantara. Awal pendirian Taman Siswa diawali dengan ketidak puasan dengan pola pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial, karena jarang sekali negara kolonial yang memberikan fasilitas pendidikan yang baik kepada negara jajahannya. Seperti yang dikatakan oleh ahli sosiolog Amerika “pengajaran merupakan dinamit bagi sistem kasta yang dipertahankan dengan keras di dalam daerah jajahan”.

Didirikanya  pula Ksatrian Instituut oleh salah satu tokoh pergerakan nasional Indo-Belanda Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (E.F.E.) Douwes Dekker yang kemudian dikenal sebagai Dr. Danoedirdja Setiabudhi. Setelah kembali dari pengasingannya di Belanda, Douwes Dekker, yang merupakan salah seorang mantan pemimpin Indische Partij ini berniat untuk menjadi guru pada sebuah sekolah rendah (sekolah dasar) yang dipimpin oleh Ny. H.E Meyer Elenbaas di Jalan Kebon Kelapa 17 Bandung. Niatnya ini terlaksana pada September 1922, setelah mendapat izin dari gubernur jenderal.  Pada 1923 muncul Preanger Instituut van de Vereeniging Volksonderwijs (Instituut Pengajaran Priangan dari Perkumpulan Pengajaran Rakyat di Bandung) dari bekas sekolah ini, dan kemudian ia menjadi kepala MULO (setara dengan SMP). Tujuan sekolah ini adalah memberikan kesempatan pendidikan yang luas kepada anak-anak pribumi.
Kemudian Muhammad Syafei mendasarkan konsep pendidikannya pada nasionalisme dalam arti konsep dan praktek penyelenggaraan pendidikan INS Kayutanam didasarkan pada cita-cita menghidupkan jiwa bangsa Indonesia dengan cara mempersenjatai dirinya dengan alat daya upaya yang dinamakan aletif kreatif untuk menguasai alam. Semangat nasionalismenya yang sedang tumbuh menimbulkan pertanyaan, mengapa bangsa Belanda yang jumlahnya sedikit dapat menguasai bangsa Indonesia yang jumlahnya sangat besar. Pertanyaan ini dapat dipecahkan setelah berada dan hidup di tengah-tengah masyarakat Belanda. Ternyata bahwa faktor alam dan lingkungan masyarakat mempengaruhi jiwa manusia

B.       SARAN

        Setelah sekian tahun bangsa ini merdeka, namun sampai kini kita masih mempunyai problem pada dunia pendidikan. Keadaan bangunan sekolah yang tidak layak di daerah-daerah, biaya pendidikan yang membumbung tinggi, dan kesejahteraan pengajar yang kurang diperhatikan mewarnai alam pendidikan kita dewasa ini. Mudah-mudahan ini dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk menyongsong kehidupan dunia pendidikan yang lebih baik di masa depan dan pemerintah lebih memperhatikan lagi dunia pendidikan kita.

DAFTAR PUSTAKA


EmoticonEmoticon